Kampung Bahasa UNESA - PA Rongewu Rolas JemPOL-JemPOL

Minggu, 02 Juni 2013

TUGAS APRESIASI PROSA FIKSI “THESEUS SI PEMBERANI” DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGIS


“THESEUS SI PEMBERANI”
DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGIS
DARI NOVEL YANG BERJUDUL “THESEUS”
KARYA PENGARANG PERANCIS “ANDRE GIDE”

A.     ALASAN PEMILIHAN JUDUL “THESEUS SI PEMBERANI”
Mengapa saya memilih untuk menggunakan judul “theseus si pemberani”, alasannya adalah karena setelah saya membaca dan memahami isi novel tersebut saya merasa bahwa theseus yang merupakan tokoh utama dalam novel ini adalah seorang anak raja yang dalam kehidupannya tentunya di didik dan dibentuk dengan  watak yang memang memiliki kewibawaan dan lain sebagainya, namun disini sifat itu memang sudah dimiliki theseus, tapi itu semua terlalu dini ditanamkan ayahnya pada theseus, bagaimana tidak sejak kecil theseus seolah tidak mendapatkan sedikit waktupun untuk bersahabat dengan alam dan manusia lainnya sebagaimana yang seharusnya dialami anak seusianya, sehingga dalam hal ini theseus sangat membenci ayahnya, namun dia tetap berusaha dan mau menjalani itu semua dengan baik yang akhirnya memang membentuk dirinya pada karakter anak raja yang diharapkan ayahnya, dia berani melawan gejolak kekesalan, amarah dan hal-hal lainnya demi itu semua. Sehingga pada akhirnya theseus besarpun juga dihadapkan pada peperangan, pertempuran dan usaha membela tanah airnya dan theseus memenangkannya serta berhasil mendapatkan tahta kepemimpinan berkat keberaniannya serta menikah dengan isteri yang cantik jelita, tapi pada akhirnya theseus harus menerima nasib meninggal dalam keadaan seorang diri akibat sifat kesombongannya tersebut, yaitu yang juga merupakan salah satu sifat yang diwarisi dari ayahnya itulah yang membawanya pada kehancuran dan kehampaan diri dalam hidupnya.
Jadi itulah yang menjadi alasan mengapa saya mengangkat judul “theseus si pemberani”. Dan disini saya juga menggunakan sebuah pendekatan dalam pengapresiasian prosa fiksi ini yaitu dengan “pendekatan psikologis”. Dimana pendekatan inilah yang saya anggap paling cocok untuk digunakan menganalisis novel yang berjudul “THESEUS” dengan pendekatan tersebut, karena itu juga sesuai dengan judul saya yang sudah tersebut diatas. Jadi saya yakin untuk menggunakan pendekatan psikologis, juga selain itu saya nanti akan lebih condong pada tokoh utama dalam menganalisis novel ini, yaitu theseus yang merupakan tokoh utama sekaligus merupakan judul dalam novel ini.
B.     UNSUR-UNSUR INTRINSIK DALAM NOVEL THESEUS KARYA PENGARANG PERANCIS “ANDRE GIDE
·        TOKOH
v  TOKOH UTAMA: THESEUS
1.      Karakter pemberani dalam diri Theseus ini tampak saat ayahnya menyarankan dirinya untuk menempuh jalan laut yang lebih aman, namun bukanlah Thesesus jika tak menentang bahaya. Theseus dengan keberaniannya memilih jalan darat dengan segala lika-likunya. Baginya, hal itu merupakan kesempatan dirinya dalam memperlihatkan keberaniannya. Hingga dalam perjalanannya ia mampu mengalahkan beberapa penjahat yang mencoba menghadang perjalannya.
2.      Karakter penuh percaya diri dalam diri Theseus ini tampak saat ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa tangan dan hatinya begitu kuat tatkala ia berhasil mengalahkan perampok-perampok yang baginya sangat berbahaya.
3.      Karakter penuh kekuatan dalam diri Theseus tampak saat ia menuruti perintah ayahnya dalam mengangkat batu-batuan besar untuk mencari senjata di bawah tanah.
4.      Karakter penuh pengabdian kepada manusia dalam diri theseus tampak saat ia telah menunaikan pengabdiannya dalam membersihkan bumi dari penjahat-penjahat, perampok-perampok serta binatang buas.
5.      Karakter selalu ingin serba sempurna dalam segala usaha dalam diri Theseus in sebenarnya adalah sifat yang ia warisi dari kakeknya Pitheus. Kata-kata kakeknya seolah telah terpatri dalam jiwanya bahwa tidak cukup manusia itu akan ada, juga tidak cukup akan sudah ada, tapi ia harus mewarisi dan bekerja, sehingga ia merasa bahwa adanya itu belum selesai, dan ia masih tetap sambung menyambung dan perlu disempurnakan.
6.      Karakter penuh ambisi dan perkasa dalam diri Theseus merupakan sifat yang ia warisi dari herkules, anak bibinya.
7.      Karakter cerdas dalam diri Theseus merupakan sifat yang ia warisi dari kakek dan ayahnya Pitheus dan Aegeus.
8.      Karakter tidak bertanggungjawab dalam diri Theseus tampak saat ia dalam perjalannya menuju Atena, ia bertemu dengan sosok Pyregone yang tinggi dan lemah gemulai lalu Theseus memberinya anak yang bernama Menalip. Pyregone dan menalip begitu saja ditinggalkan oleh Theseus supaya ia tak terlambat dalam perjalannya.
9.      Karakter curang dalam diri Theseus tampak saat ia diuji kesaktiannya layaknya dewa Poseidon oleh Raja Minos. Ia mencurangi ujian yang diberikan Raja Minos.
10.  Karakter tidak konsisten dalam diri Theseus yang menurutnya sendiri adalah warisan dari Dewa Poseidon yakni perangainya yang tak pernah tetap dalam segala hal. Hal itu juga ditunjukkan Theseus ketika ia tak dapat tetap mencintai seorang wanita.
11.  Karakter tak ingin disaingi ataupun dikalahkan oleh orang lain dalam diri theseus tampak ketika kebenciannya terhadap ayahnya karena ayahnya dianggap telah menyainginya merampas “sosok ibu” dari dirinya lewat larangan bersahabat dengan alam yang secara tidak langsung memutus imaji erotiknya. Hal lain juga tampak saat bayang-bayang ayahnya muncul pada diri anaknya, Hypollitus serta tampak juga saat Theseus merasa disaingi dan dikalahkan oleh sahabatnya sendiri, Oedipus. Ketika Oedipus berada di bumi pertiwinya, Attika, Oedipus yang juga seorang raja Thebes yang dianggapnya akan memiliki Attika juga.
12.  Karakter pengayom pada diri Theseus tampak ketika ia berucap bahwa yang selalu ia jaga adalah kepentingan umum, menjaga keseimbangan dan ketertiban.
13.  Karakter penakluk pada diri Theseus tampak ketika ia berhasil menaklukkan binatang-binatang buas, perampok-perampok dan penjahat-penjahat.
14.  Karakter angkuh pada dirinya Theseus tampak saat ia mengakuinya sendiri. Berikut kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Theses memiliki sifat angkuh.“Kupersembahkan kepada dewa-dewa sebagai tebusan atas apa yang telah kucapai dengan berhasil disamping sifat-sifat angkuh yang kumiliki”
15.  Karakter teguh hati, tampak ragu-ragu dan pantang mundur tampak saat Dedalus pembuat Labyrinth berkata pada Theseus bahwa daedalus menyukai Theseus karena keteguhan hati menghadapi sesuatu tujuan tanpa ragu-ragu dan pantang mundur.
v  TOKOH SAMPINGAN: Aegeus, hypollitus, Poseidon, Pirithous, Herkules, Antiope, Pyregone, Menalip, Minos, Minotaur, Pasiphae, Rhadamanthus, Daedalus, Ariadne, Phaedra, Elaukus dan Oedipus. Tampak juga beberapa tokoh yang disebutkan oleh penulis namun tidak digambarkan bagaimana karakter dan perannya dalam cerita. Dalam arti tokoh-tokoh lain ini hanya sekadar sebagai tokoh tambahan dalam cerita dengan hanya menyebutkan nama-nama tokoh ini namun tidak menghidupkannya dalam peran. Sehingga cukup susah untuk penganalisisan karakteristik tokoh-tokoh tersebut.
·        ALUR
Dalam novelTHESEUS” ini alurnya adalah “CAMPURAN (MAJU DAN MUNDUR)”. Bagaimana tidak cerita dalam novel theseus ini seolah diceritakan begitu rumit, setelah mengarah maju alurnya, tiba-tiba saja mengenang masa lalu dan menceritakan kebelakang jadi terkesan alur mundur, dan itulah yang menyebabkan novel theseus ini saya memutuskan bahwa memang benar novel tersebut menggunakan alur campuran dalam ceritanya. Sehingga kehidupan, peristiwa-peristiwa dalam novel theseus juga terkesan diceritakan secara detail dari awal sampai akhir, baik menceritakan dengan langsung kearah depan kehidupannya maupun kembali menceritakan kehidupan atau peristiwa yang telah lampau. Atau telah dilalui oleh theseus tersebut. Jadi saya menyimpulkan bahwa novel theseus ini menggunakan alur campuran.
·        SETTING
v  SETTING TEMPAT
Novel theseus  ini diceritakan diberbagai tempat yakni meliputi hutan, taman, pantai, laut, sekitar istana, di desa, di kota-kota, di pelabuhan, di ibu kota pulau, kamar istana, di bawah ruangan kerajaan, sebuah arena besar dalam bentuk setengah lingkaran terbuka di dekat laut, di amphitheatre, labyrinth, danau moris, pulau naxos.
v  SETTING WAKTU
Novel theseus ini latar waktunya yaitu terjadi sepanjang hari, dimana pada waktu pagi, siang, sore dan juga malam.
v  SETTING SUASANA
Dalam novel theseus setting suasananya meliputi kesal, benci, tertekan, tegang, mencekam, iri, cemburu, bahagia, acuh dan sedih. Ini semua tergambar dari kejadian maupun peristiwa yang berlangsung secara berkesinambungan dalam novel theseus tersebut.
·        DIKSI ATAU PILIHAN KATA
Novel theseus ini diksi atau pilihan kata yang dipergunakan sangatlah sulit dipahami oleh pembaca ataupun pengapresiasi prosa fiksi (apresiator).  Karena novel tersebut menggunakan majas yang cukup sulit dipahami yakni ada beberapa gaya bahasa yang dapat dijumpai dalam novel ini adalah gaya bahasa atau majas hiperbola, personifikasi dan metafora. Dimana diperlukan pengetahuan tentang majas-majas tersebut, sehingga jika hanya pembaca biasa, maka akan sangat kesusahan dalam pengapresiasian sebuah karya sastra berupa prosa fiksi ini. jadi memang dibutuhkan ketelatenan dalam pengapresiasian novel theseus tersebut, agar diperoleh hasil yang optimal dan sesuai kehendak hati bagi si pengapresiator prosa fiksi. Karena itulah sebuah pengetahuan tentang gaya bahasa juga merupakan hal penting yang perlu diketahui dan dimengerti oleh seorang apresiator karya sastra khususnya pengapresiator prosa fiksi yang pada umumnya memang kesulitan yang akan dialami cukup tinggi.
·        CHEMISTRI BUDAYA
Dalam novel theseus ini chemistry budaya yang dapat ditangkap adalah sebuah kehidupan yang tentunya masih sangat bersifat kekerajaan, dan pengabdian tinggi bagi seorang rakyat pada pemerintahan yang ada. Jadi sosok pemimpin disini sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakatnya. Karena itulah terkesan adanya ketidakbebasan dalam kehidupan masyarakat yang patutnya seperti itu ditiadakan, namun pada akhirnya lahirlah sebuah kehidupan yang dapat mensejahterahkan rakyatnya dan akan tetapi terdapat kesenjangan antara golongan bangsawan dan rakyat biasa, walaupun sudah ada aturan yang meminimalisir hal tersebut terjadi pada kehidupan sosial masyarakat.
·        SUDUT PANDANG
Dalam novel ini sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama. Dalam arti penulis menempatkan dirinya sebagai tokoh utama yakni bercerita secara langsung yang ditandai dengan “Aku”.
C.      Theseus si pemberani dengan nasib yang malang karena Oedipus complexnya.
Keberanian theseus menghadapi dan melawan kehidupan yang sangat tidak sesuai dengan tahapan perkembangan yang seharusnya dia alami inilah yang menjadikan dia menjadi sosok pemberani sampai tak tau batas dan sekan klewat batas dalam segala hal. Oedipus complex yang diderita Theseus ada pada tahapan perkembangan psikoseksual dimasa anak-anak saat anak menganggap ayah sebagai musuh dan saingan dalam meraih cinta secara eksklusif dari ibunya. karena ia tidak mampu melewati tahapan atau fase perkembangan kepribadian pada dirinya. Sehingga Theseus dikatakan sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang tak sempurna atau menyimpang karena ia tak mampu melewati fase-fase perkembangan kepribadiannya dengan baik. Oedipus compelx dalam diri Theseus ini bisa dilihat pada perjalanan hidup Theseus sejak masa kecilnya hingga masa dewasanya. Keterpakuannya pada Oedipus compelx ini terlihat pada peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang hidupnya. Peristiwa-peristiwa itu yakni kematian sang ayah (Aegueus), kematian sang anak (Hypollitue) dan kematian sang sahabat yang juga sebagia raja Thebes (Oedipus). Jika dilihat pada peristiwa kematian sang ayah (Aegeus), hal itu bermuka dari darita Oedipus complex yang dialami Theseus. Berawal dari keinginan Theseus semasa kecil yang lebih cenderung menyukai kehidupan yang bebas serta kedekatan yang begitu hangat dengan alam. Keinginannya ini menimbulkan gairah sensual dalam dirinya. Dengan ia melakukan kebebasan dan kedekatannya dengan alam, Theseus merasakan adanya dorongan libido dalam dirinya. Benda-benda di alam yang begitu dekat dan bersahabat dengan menggambarkan atau mengandung satu sifat umum yakni kelembutan seorang wanita. Dimana telah lama ia begitu mendambakan kehadiran “sosok ibu”.
Berikut kutipan dalam novel yang menunjukkan kedekatan Theseus dengan alam yang berasal dari keinginan hidup bebas :
“Aku tak terbatas hanya pada diriku, maka segala hubunganku dengan dunia luar tidak menunjukkan kepadaku batas-batas kemampuanku seperti halnya dengan kecenderunganku dalam mencari kesenangan. Dengan tanganku aku sudah mengelus-elus buah-buahan dan kulit kayu yang lunak, batu licin di tepi laut, bulu anjing dan kuda, sebelum aku menjamah wanita….”
Benda-benda alam itulah yang merupakan lambang kehalusan dan kelembutan seorang wanita. Tanpa Theseus sadari, kedekatannya dengan alam merupakan suatu bentuk kerinduannya terhadap sosok wanita yang telah lama ia damba. Namun kenikmatan imaji erotiknya itu tak bertahan lama. Hal itu karena ayahnya, Aegeus yang merupakan raja yang gagah perkasa yang juga ia kagumi melarang ia untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu. Bentuk pelarangan inilah merupakan kejadian awal yang membawa konflik dalam diri Theseus kepada ayahnya. Berikut kutipannya :
“Suatu hari ayah berkata kepadaku bahwa hal-hal semacam itu tak dapat terus berjalan demikian. Kenapa ?”
Sanggahan kata “Kenapa ?” yang secara langsung keluar dari mulut Theseus adalah suatu bentuk kekecewaan maupun kesakitan hatinya atas larangan ayahnya. Menurut ayahnya, hal itu tak pantas ia lakukan karena sudah tentu bahwa ia adalah putera dari ayahnya yang harus memperlihatkan diri bahwa ia memenuhi syarat menduduki tahta yang akan diwarisi dari ayahnya. Larangan ayahnya tersebut secara tidak langsung memutuskan sang libido dengan “sosok ibu” dengan kata lain larangan tersebut merupakan vonis mati bagi imaji erotiknya. Mau tidak mau Theseus menerima larangan sang ayah karena ia begitu mengagumi sosok sang ayah sebagai raja yang perkasa, terhormat dan berwibawa sehingga membuat ia tak dapat menyalahkan ayahnya atas larangan tersebut. Sebenarnya pada saat inilah Theseus mulai menumbuhkan benih dendam kebencian yang nantinya akan selalu terepresi dalam alam tak sadarnya. Hal itu tampak dalam kesadarannya bahwa ia merasakan sang ayahlah yang menjadi penghalang libidonya terhadap “sosok ibu” berikut kutipannya :
“Seperti sudah kukatan, Aegeuslah yang telah menjadi perintangku dalam cinta”
Atas hasrat libido pada diri Theseus yang begitu besar serta ingatannya akan ayahnyalah yang menjadi pemutus hasrat libidonya itu, theseus secara tak sadar menyebabkan kematian pada sang ayah. Setelah ia kembali dari pulau kreta dan berhasil membawa kemenangan dari Phaedra (wanita yang ia cintai sekaligus puteri kedua dari Raja Minos), Theseus seakan terlupa akan kesepakatan dirinya dengan ayahnya. Saat ia kembali ke Attika, ia lupa mengibarkan bendera putih bertanda kemangannya. Namun ia malah terlupa sehingga tetap bendera hitmalah yang berkibar di atas awak kapalnya. Melihat hal itu, ayahnya menjatuhkan dirinya ke dalam laut. Kematian ayahnya itulah merupakan keinginan Theseus yang secara tidak sadar telah terepresi begitu lama dalam alam bawah sadarnya. Karena ia merasa ayahnyalah yang menjadi penghalang hasrat libidonya sehingga ia merasa apabila ayahnya tiada, ia bisa memenuhi segala hasrat libidonya. Peristiwa lain akibat derita Oedipus complex yang ia lamai adalah peristiwa kematian sang anak (Hypollitus). Rasa dendam dan bencinya terhadap sang ayah terulang pada sang anak (Hypollitus). Theseus melihat bahwa watak sang anak yang luhur budi, mulia dan menauhi kehidupan duniawi merupakan watak turunan dari ayahnya, Aegeus. Secara tak sadar ia telah membunuh anaknya sendiri. Dorongan untuk melakukan itu merupakan manifestasi kebencian pada sosok ayah yang telah lama terpendam dan seara tiba-tiba muncul kembali tatkala Theseus menemukan sosok ayah dalam diri anaknya. Peristiwa terakhir akibat derita Oedipus complex yang dialami Theseus adalah kematian sahabatnya sendiri yakni Oedipus. Kondisi Theseus karena Oedipus complexnya itu memunculkan perasaan bahwa ia merasa paling hebat dan tak ingin disaingi ataupun dikalahkan oleh orang lain meskipun oleh sahabatnya sendiri. Ia menganggap sahabatnya sendiri sebagai saingan terberatnya. Sehingga saat kematian sahabatnya sendiri di bumi Attika, ia merasa telah memiliki Attika sepenuhnya. Dimana tak akan ada orang lain lagi yang merebut apa yang ia punya. Dan karena sifat pemberani dalam mengambil keputusan maupun tindakannya melawan musuh inilah yang pada akhirnya menjadikan dia hidup seorang diri tanpa adanya kasih sayang yang dapat abadi sehingga theseus mati.
D.     BEBERAPA HAL-HAL MENARIK YANG TERDAPAT DALAM NOVEL THESEUS DIANTARANYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:
1.     “Pertama sekali manusia harus mengenal siapa dia. Sesudah itu baik juga kita hayati dan kita ambil dengan tangan apa yang telah ditinggalkan sebagai warisan buat kita”.
2.     Jadilah kau laki-laki dewasa. Belajarlah menjelaskan kepada orang bagaimana ia seharusnya dan ingin jadi apa ia”.
3.     “Tatkala aku seusia kau, ingin sekali aku menuntut ilmu. Aku yakin sekali bahwa tenaga manusia tidak berarti apa-apa atau hampir tidak berarti, kecuali bila mendapat pertolongan para dewa”.
4.     “Aku tidak tahu dari mana dewa akan memulai, juga aku tidak tahu di mana akan berakhir! Tapi barangkali aku dapat mengutarakan apa yang ada dalam hatiku bila kukatakan, bahwa permulaanya itu tidak berakhir”.
5.     “Senang rasanya aku memikirkan, bahwa manusia sesudahku kelak-berkat jasaku-akan hidup lebih baik, lebih baik, lebih dekat pada kebebasan-daripada kami”.
E.      ALASAN MENGAPA BEBERAPA HAL TERSEBUT MERUPAKAN HAL MENARIK ADALAH:
1.    Untuk nomor satu ini merupakan hal menarik karena hal itu benar adanya, bahwa kita harus tahu siapakah diri kita ini, dari keluarga mana kita berasal, dari keturunan apa dan golongan apa, itu semua memang hal yang wajar saja dalam kehidupan walaupun sebenarnya itu semua juga dapat mengakibatkan kesenjangan social dalam kehidupan bermasyarakat, namun kita tidak dapat memungkiri hal tersebut. Jadi kita hanya bisa menerima warisan atau keturunana yang telah kita miliki sejak lahir (dilahirkan didunia ini). Namun bergantung pada kita sendiri bagaimana menjalani kehidupan kedepannya.
2.    Nomor dua ini juga merupakan hal menarik, karena sebagai orangtua hal tersebut benar dalam penasehatannya, karena jika kita mampu menjadi sosok yang diinginkan dan memang seharusnya terjadi pada kita, yakni menjadi orang dewasa. Maka kita tahu bagaimana hakikat sejati diri kita aini, apakah yang kita inginkan atau ingin kita capai dalam hidup ini akan kita ketahui dengan seiring berjalannya waktu, pertumbuhan kita sendiri menjadi sosok dewasa bukan anak-anak lagi yang harus selalu apa-apa diarahkan.
3.    Nah untuk nomor tiga ini menurut saya adalah hal yang paling menarik dari beberapa hal menarik tersebut diatas. Karena menurut saya hal tersebut benar adanya, menuntut ilmu itu adalah sebuah hal penting dan merupakan kewajiban. Karena dengan memilki ilmu kita bisa mengembangkan ilmu tersebut untuk hal-hal berguna dan tentunya bermanfaat untuk diri dan hidup kita, dan percuma kita kuat dalam fisik namun otak kita tidak cerdik. Ilmu adalah sebuah kekuatan alamai yang berupa taktik dan sangat membantu kita dalam berkehidupan, jadi kalau hanya dengan otot maka kita akan dengan mudah dikelabuhi musuh, selain itu semuanya juga bersumber dari ilmu, mau mengerjakan apapun tanpa ada dasar ilmu pengetahuan maka hasilnyan akan tidak sesuai harapan. Jadi menuntut ilmulah, karena tanpa itu keberhasilan yang kita capai nunkgin hanya karena keberuntungan atau adanya dewa penolong. Jadi sama saja itu bukanlah alamiah dari diri kita. Jadi saya setuju bahwa kita memang wajib menuntut ilmu pengetahuan.
4.    Nah nomor empat ini juga merupakan hal menarik karean disini seseorang mengungkapkan kejujuran perasaannya, yaitu tentang mereka sadar kalau mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa pula yang akan terjadi berikutnya yang disini ditentukan oleh para dewa, namun optimismenya tentang permulaan belum berakhir ini patut diacungi jempol karena merupakan semangat yang ada dalam dirinya.
5.    Dan yang terakhir yaitu nomor lima ini juga merupakan hal menarik karena setelah kita berusaha menyumbangkan yang terbaik untuk  kelangsungan hidup anak cucu kita nanti, maka kita akan merasa perjuangan kita tidak sia-sia, dan berharap dapat berguna bagi kelangsungan hidup generasi berikutnya.
F.      Dari penjabaran tentang beberapa hal menarik tersebut, menurut saya hal yang paling menarik adalah nomor tiga yaitu sebagai berikut:
“Tatkala aku seusia kau, ingin sekali aku menuntut ilmu. Aku yakin sekali bahwa tenaga manusia tidak berarti apa-apa atau hampir tidak berarti, kecuali bila mendapat pertolongan para dewa”.
                                                                                                           
G.     Jadi dari penjabaran tersebut menurut saya novel “THESEUS” ini paling cocok dianalisis dengan “PENDEKATAN PSIKOLOGIS”. Karena dengan pendekatan itu kita akan menghasilkan pengapresiasian karya prosa fiksi dengan baik dan pendekatan itu cocok dengan analisis saya memilih judul “THESEUS SI PEMBERANI” untuk novel “THESEUS KARYA ANDRE GIDE”.
Alasan saya mengapa mengambil pendekatan psikologis adalah karena novel ini dalam apresiasinya cenderung diperlukan usaha untuk memahami prosa fiksi sebagai sebuah kreasi yang tidak dapat dilepaskan dari aspek psikologis, terutama pengarang, pembaca dan yang lain.  Selain itu dengan pendekatan ini saya dapat menemukan karakter-karakter yang terdapat pada tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam novel theseus tersebut. Selain itu juga karena novel ini mengundang pembaca dalam subjektivitas pemikiran dan menyambungkannya dengan dunia nyata. Serta tafsiran yang banyak dihasilkan pada teks tertentu. penafsiran secara cepat dan menggugah fantasi-fantasi kita dalam apresiasi prosa fiksi ini.
H.    Saya juga akan memberikan penjelasan tentang pengertian dari PENDEKATAN PSIKOLOGIS sendiri, yaitu:
“Pendekatan psikologis ialah pendekatan yang beusaha memahami prosa fiksi sebagai sebuah kreasi yang tidak dapat dilepaskan dari aspek psikologis, terutama pengarang, pembaca dan yang lain. Lebih dari itu, dalam pendekatan ini dapat dipakai psikoanalisis dalam melihat karakter-karakter yang ada dalam novel atau menganalisis berbagai respon pembaca atas karya sastra tersebut.
Psikoanalitik secara extreme melihat teks sebagai halaman kosong tempat subjektivitas pembaca memeriakan dirinya. Pembaca menciptakan teks kembali berdasarkan pola-pola yang menjadi karakteristiknya dalam mengadaptasi dunia nyata. Disamping itu, pembaca juga memproyeksikan fantasi-fantasi karakteristiknya pada teks tertentu. penafsiran pembaca terhadap teks merefleksikan strategi-strategi yang memiliki karakter dalam kaitannya dengan ketakutan dan harapan pembaca yang paling dalam. Dengan psikoanalisis sang apresiator, dapat mengungkapkan aspek ketidak-sadaran fiksi dan membongkar prosesnya. Semua hal tersebut dihasilkan dari kontradiksi psikologis, ambiguitas, ketidakhadiran, elemen-elemen yang tersisih, dan karakter-karakter yang memarginalisasikannya.
I.       Dengan adanya penjelasan mengenai pengertian Pendekatan Psikologis tersebut saya yakin bahwa novel “THESEUS KARYA ANDRE GIDE” cocok dianalisis dengan pendekatan tersebut.
J.  Kesimpulan
a.  Novel Theseus karya Andre Gide menceritakan riwayat perjalanan hidup Theseus, sang tokoh utama yang mengalami Oedipus complex. Penyebab dari Oedipus complex yang dideritanya yakni kegagalannya dalam melewati fase-fase perkembangan kepribadiannya. Hal tersebut membawanya pada satu titik fiksasi atau keterpakuan. Kondisi tersebut hadir akibat terputusnya hasrat libido melalui larangan sang ayah. Kondisi inilah yang mengakibatkan peristiwa-peristiwa kematian orang terdekat Theseus yakni kematian ayahnya (Aegeus). Kematian anaknya (Hypollitus) dan kematian sahabatnya (Oedipus).
b.  Hal yang paling menarik dalam novel ini ada pada nomor tiga Yakni: “Tatkala aku seusia kau, ingin sekali aku menuntut ilmu. Aku yakin sekali bahwa tenaga manusia tidak berarti apa-apa atau hampir tidak berarti, kecuali bila mendapat pertolongan para dewa”.
c.   Pendekatan yang sesuai dengan judul saya yaitu ”Theseus Si Pemberani” adalah “Pendekatan Psikologis” dimana pendekatan ini paling cocok dan pas dalam penganalisisan apresiasi prosa fiksi pada novel “Theseus” sesuai yang telah saya jelaskan tersebut diatas.
d.  Dalam pendekatan Psikologis saya spesifik pada kehidupan dan karakteristik salah satu tokoh yaitu Theseus yang memiliki jiwa pemberani dan kepemimpinan yang tinggi yang diwarisi oleh ayahnya tersebut. Jadi saya juga memutuskan menggunakan judul “Theseus Si Pemberani” yang itu semua saya sesuaikan dengan sifat tokoh tersebut yang saya pergunakan sebagai tonggak dalam apresiasi prosa fiksi ini.
e.  Banyak hal menarik yang terdapat dalam novel ini serta masing-masing hal menariknya tentu kita dapat mengambil sisi positifnya.
f.   Novel ini sangat memiliki nilai kehidupan yang tinggi, dimana perlunya menyeimbangkan kehidupan, perlunya tahapan perkembangan yang benar-benar harus terjadi dalam diri individu sebagaimana mestinya, serta haruslah kita bisa menjaga dan menggunakan sifat baik kelebihan maupun kekurangan kita dengan baik dan benar sebagimana yang seharusnya memang kita lakukan dengan penuh keseimbangan diantara keduanya. Jadi akan terwujud kehidupan yang sejahtera bagi kita sendiri khususnya serta jangan mendendam pada orangtua karena itu tidak baik. Sejelek apapun sifat dan perilaku orangtua, mereka adalah orang yang telah membesarkan dan mendidik kita sampai seperti ini. jadi tetaplah berbakti dan menuruti nasihat-nasihatnya sekalipun itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan dan harapkan.  
Sekian dan terimakasih J.” Tak ada gading yang tak retak”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Please.. Don't Repost Back.. :D